Kenapa Kita Dianjurkan Untuk Mengingat Kematian? (Part 2)

#23Dzulqodah1443H #CatatanKeluarga

Assalamu’alaikum Sahabat HOTS
Kembali lagi di hari Rabu dengan semangat yang menggebu-gebu. Nah, pekan ini Mimin mau lanjut tentang kenapa kita dianjurkan untuk mengingat kematian bagian ke-2. Yuk baca selengkapnya di bawah ini!

Ulama asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi menjelaskan, kematian merupakan petunjuk atas rububiyah. Lewat rahasia bunyi ayat Al-Qur’an:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ

“Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan.” (QS Al Mulk: 2 )

“Kematian bukanlah ketiadaan, kebinasaan, kefanaan, kesia-siaan, atau kehancuran alamiah tanpa ada pelaku. Tetapi ia adalah pembebasan tugas dari Pelaku Yang Mahabijak,” kata Nursi dikutip dari bukunya yang telah dialihbahasakan berjudul “Jendela Tauhid” (Jakarta : Anatolia, 2011).

Nah poin selanjutnya tentang anjuran mengingat kematian sebagai berikut:

5⃣ Dengan mengingat mati melapangkan dada, menambah kekhusyukan dalam ibadah
Ad Daqqaq rahimahullah berkata:

“من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة، ومن نسى الموت عوجل بثلاثة: تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة”  تذكرة القرطبي : ص 9

“Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.” (Lihat kitab At Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al Akhirah, karya Al Qurthuby).

6⃣ Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal, mari perhatikan riwayat berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

“Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).
Ketujuh, Hari ini yang ada hanya beramal tidak hitungan, besok sebaliknya.

Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.

“Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” (Lihat kitab Shahih Bukhari).

7️⃣ Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya di dunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

8️⃣ Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zalim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4).

Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zalim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zalim seperti itu.

Nah Sahabat HOTS, itulah poin-poin yang bisa Mimin sampaikan tentang anjuran mengingat kematian. Semoga apa yang disampaikan memberikan manfaat juga menjadi cambuk bagi kita untuk mendekat pada Allah, memperbanyak taubat, perbanyak doa agar kelak kita bisa wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin

Sumber:
▪️https://almanhaj.or.id/30355-mengingat-maut-2.html
▪️https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html
▪️https://muslim.or.id/59956-begini-maksud-perintah-sering-mengingat-kematian.html
▪️https://minanews.net/hikmah-kematian-sebuah-renungan-bagi-yang-tertimpa-musibah/
▪️https://muslim.or.id/8076-ingat-mati-2.html

#MetodeKauny #HafizhOnTheStreet #HOTSerDaerah #PejuangAlquran #HijrahituMudah

FB http://Facebook.com/hafizhonthestreet
IG http://Instagram.com/hotsofficial_kauny
YT https://bit.ly/Youtube_HOTSOfficial
Web www.hafizhonthestreet.com
0821 5117 5117

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top